‘Kampung Sapi’ Bernama Desa Gading Sari

 

Waris, Petugas Penyuluh Lapangan di sana mengatakan, tahun 2010 lalu menjadi cikal ternak sapi di desa yang dihuni oleh mayoritas pensiunan ABRI itu. “Tadinya, ada sekitar 20 kepala keluarga yang inisiatif memelihara sapi. Modal awal Rp 900 juta dipakai untuk membeli 150 ekor,” cerita Waris, kemarin.

Lantaran pertumbuhan sapi-sapi itu bagus kata Waris, tahun lalu Pemerintah Kabupaten Kampar menyemangati warga untuk beternak sapi. Duit sebanyak Rp 1,8 miliar digelontorkan untuk membeli 250 ekor sapi. Sapi itu dibagikan kepada 5 kelompok. Ada yang kebagian 30 ekor, ada pula yang 50 ekor. “Tiap kelompok, jumlah anggotanya variatif. Satu kelompok itu ada yang anggotanya 20 orang,” kata Waris.

Kelompok itu tak melulu warga biasa. Ada 23 alumnus Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Karya Nyata Kubang Jaya, Siak Hulu di sana. P4S ini adalah ‘kawah candra dimuka’nya Pemkab Kampar untuk mencetak tenaga siap pakai di pedesaan. Mereka diplot sebagai menejer dengan ragamskill. Adaskillperikanan, peternakan hingga pertanian.

Kini, sudah tiga tahun desa Gading Sari itu menjadi ‘kampung sapi’. “Alhamdulillah, jumlah sapi kami terus bertambah. Anak-anak sapi itu malah sudah mencapai 50 ekor,” cerita Hidayat, salah seorang peternak.

Lalu, sapi tahap pertama yang tadinya bernilai Rp 900 juta, sekarang sudah bernilai Rp 1,35 miliar. Itu belum termasuk anak-anak sapi. “Yang tahap kedua juga nilainya sudah bagus. Pokoknya menguntungkanlah,” kata Hidayat.

Memang kata Waris, beternak sapi tak bis langsung menguntungkan.Break Event Point  alias untung setelah balik modal itu baru terasa di tahun ketiga. Dan sebisa mungkin, sapi yang dipelihara minimal 10 ekor. “Kalau sapi yang dipelihara jumlahnya segitu, maka untung yang bisa didapat antara Rp 30 juta – Rp 40 juta per tahun,” katanya.

Lebih sederhana lagi Waris merinci begini; Modal awal 10 ekor sapi antara Rp 60 juta sampai Rp 80 juta. Setahun kemudian, nilai sapi ini sudah membengkak menjadi Rp 120 juta hingga Rp 140 juta. “Yang penting mengurus sapi itu telaten,” Waris mengingatkan.

Keuntungan lain? Kencing danletongalias kotoran padat sapi, lebih dari cukup biaya rumput dan ongkos membayar tukangangon.“Dari 10 ekor sapi, kita bisa dapat 2 jerigen air kencing sehari. Harga jual satu jerigen Rp 20 ribu. Lalu, dalam sehari pula ada 2 karungletongyang bisa dikumpulkan. Satu karungletongRp 10 ribu. Kencing danletongini dipakai orang untuk pupuk sawit,” kata Waris.

Meski pertumbuhan sapi-sapi itu bagus dan prospeknya menjanjikan, bukan berarti para peternak tak didera masalah. Pakan mulai jadi persoalan. Sebab sekarang sudah makin susah mencari rumput. Maling juga menjadi persoalan yang cukup serius. Sebab sampai sekarang, sudah 8 ekor sapi yang raib dicuri orang. “Kalau penyakit sih masih tergolong rendah. Dari semua sapi itu, hanya ada 4 ekor yang sempat sakit,” kata Purwanto, Kepala Desa Gading Sari, yang juga ikut menjadi peternak.

Kendala-kendala semacam ini kata Purwanto sudah coba diatasi oleh sesama peternak. Mulai dari giliran ronda hingga perawatan yang lebih oke, sudah dilakukan supaya sapi-sapi peliharaan mereka, bisa selamat. “Kami bertekad menjadi ‘kampung sapi’ percontohan di Riau. Sebisa mungkin di tingkat nasional,” kata Purwanto semangat. (humas pemkab kampar){jcomments on}

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.